Jaga Kepercayaan di Tengah Dinamika Pasar Modal, Wamenko Dradjad Ajak Investor Utamakan Data dan Analisis. (Sumber: Kemenko Perekonomian)
Jakarta, Info Publikasi - Penilaian lembaga indeks internasional terhadap pasar modal Indonesia menjadi momentum untuk terus meningkatkan transparansi, memperkuat tata kelola, dan menjaga kepercayaan investor. Di tengah perkembangan tersebut, investor perlu mencermati informasi secara objektif dengan mempertimbangkan data dan fundamental perusahaan serta kondisi perekonomian nasional sebagai dasar pengambilan keputusan investasi.
“Karena itu, yang saya sampaikan kepada investor itu adalah tolong hitung sendiri. Pesan saya sebenarnya cuma itu. Siapapun, nanti kalau FTSE Russell, kemudian Bloomberg atau apa mengeluarkan apapun, itu kita perhatikan. Tapi, kita yang tahu emiten-emiten kita. Hitung sendiri. Karena ini uang teman-teman sendiri,” ujar Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo dalam Podcast Penjaga Harapan dengan tajuk “Menggugat Dikte Asing: MSCI Tidak Selalu Benar dan Kedaulatan Ekonomi Nusantara”, di Jakarta, Rabu (28/10).
Pada kesempatan tersebut, Wamenko Dradjad menyampaikan bahwa pandangan lembaga indeks internasional tetap perlu diperhatikan sebagai salah satu referensi dalam menilai pasar modal. Namun, investor juga perlu melakukan analisis secara mandiri dengan mempertimbangkan kinerja perusahaan, valuasi saham, dan prospek fundamental ekonomi Indonesia. Dengan demikian, keputusan investasi tidak hanya didasarkan pada sentimen atau informasi yang berkembang di pasar.
Lebih lanjut, Wamenko Dradjad menekankan pentingnya melanjutkan pembenahan pasar modal melalui peningkatan transparansi, tata kelola, dan penegakan aturan. Menurutnya, Indonesia telah memiliki fondasi transparansi yang perlu terus diperkuat, termasuk keterbukaan informasi mengenai kepemilikan saham. Pemerintah juga terus membuka komunikasi dengan lembaga indeks dan pelaku pasar untuk mendorong perbaikan yang diperlukan serta menciptakan pasar modal yang lebih sehat dan adil bagi investor.
Wamenko Dradjad turut menyoroti pentingnya penguatan investor domestik sebagai salah satu modal untuk menjaga ketahanan pasar modal Indonesia. Pengembangan peran investor domestik perlu didukung oleh ekosistem investasi yang sehat, kepastian aturan, serta tata kelola yang baik sehingga pasar modal dapat menjalankan perannya secara optimal dalam mendukung pembiayaan dunia usaha dan perekonomian nasional.
Dalam kesempatan tersebut, Wamenko Dradjad juga menekankan pentingnya komunikasi ekonomi yang didukung data. Persepsi mengenai daya beli masyarakat, misalnya, perlu dipahami dengan melihat perubahan pola konsumsi dan perkembangan berbagai sektor ekonomi secara menyeluruh. Informasi yang disampaikan secara objektif dan mudah dipahami diharapkan dapat membantu masyarakat melihat kondisi perekonomian dengan lebih proporsional.
Selain itu, Wamenko Dradjad menyoroti potensi pertumbuhan ekonomi daerah sebagai salah satu modal perekonomian nasional. Pada semester I 2026, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,45 persen secara nasional. Sebanyak 17 dari 38 provinsi mencatat pertumbuhan di atas rata-rata nasional, dan dari jumlah tersebut, terdapat 7 provinsi yang tumbuh di atas 6 persen. Capaian tersebut menunjukkan adanya sumber pertumbuhan di berbagai wilayah yang perlu terus dioptimalkan melalui penguatan sektor produktif, inovasi, dan iklim investasi yang kondusif.
“Artinya, pesan saya simpel saja, teman-teman. Silahkan anda dengarkan, lihat video medsos, tetapi selalu tolong cek data. Karena at the end of the day, it's our decision, it's our money,” tegas Wamenko Dradjad.
Ke depan, Pemerintah terus mendorong deregulasi dan debirokratisasi guna menciptakan iklim usaha yang semakin kondusif dan meningkatkan kepercayaan dunia usaha untuk berinvestasi. Upaya tersebut menjadi bagian dari langkah Pemerintah untuk menjaga kepercayaan investor, memperkuat fundamental ekonomi, dan mengoptimalkan potensi pertumbuhan ekonomi nasional.***
