Notification

×

Iklan

Iklan

KPK Dorong Penguatan Integritas dan Pemanfaatan Teknologi dalam Audit Forensik di Era Disrupsi Digital

Rabu, 21 Oktober 2026 | Oktober 21, 2026 WIB Last Updated 2026-10-21T16:48:16Z
KPK Dorong Penguatan Integritas dan Pemanfaatan Teknologi dalam Audit Forensik di Era Disrupsi Digital. (Sumber: KPK)

Jakarta, Info Publikasi - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Setyo Budiyanto, menegaskan pentingnya peran auditor forensik dalam menghadapi berbagai bentuk korupsi yang semakin kompleks di tengah perkembangan teknologi digital.

Pesan tersebut disampaikan dalam Seminar Nasional Asosiasi Auditor Forensik Indonesia (AAFI) 2026 bertema "Peran Strategis Auditor Forensik dalam Penanganan Fraud dan Korupsi di Era Disrupsi Digital" di Auditorium Badan Pendidikan dan Pelatihan Pemeriksaan Keuangan Negara (Badiklat PKN) BPK RI, Jakarta, Rabu (21/10).

Dalam kesempatan itu, Setyo menekankan integritas harus menjadi fondasi utama yang menghubungkan mandat, akuntabilitas, kepatuhan, dan keilmuan dalam setiap profesi, termasuk auditor forensik.

“Setiap pihak harus melaksanakan tugas dengan baik dan benar. Integritas harus menjadi infrastruktur dan fondasi yang menghubungkan mandat, akuntabilitas, kepatuhan, dan keilmuan,” ujar Setyo.

Kegiatan yang berlangsung luring dan daring itu diikuti peserta dari unsur pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), sektor swasta, hingga kalangan profesional dan akademisi tersebut menjadi ruang strategis untuk memperkuat kolaborasi dalam menghadapi tantangan penanganan fraud yang terus berkembang seiring digitalisasi.

Setyo meyakini para peserta telah memiliki bekal pengetahuan, kompetensi, serta sertifikasi memadai. Meskipun begitu, tantangannya adalah memastikan kemampuan tersebut diimplementasikan dengan profesional, objektif, serta berintegritas secara konsisten.

“Semua yang tergabung dalam AAFI saya harapkan tetap solid sehingga dapat menjalankan peran masing-masing dengan baik. Perannya berbeda, tetapi standar integritasnya tetap sama,” kata Setyo.

Dalam paparannya, Setyo turut menjelaskan perubahan pola pemeriksaan di era digital yang semakin bertumpu pada kemampuan membaca hubungan antardata. Ia menilai, transaksi yang tampak normal di permukaan belum tentu bebas dari penyimpangan.

Justru keterkaitan antarindividu, perusahaan, aliran dana, dan proses pengambilan keputusan sering kali menjadi petunjuk penting guna menemukan potensi fraud maupun tindak pidana korupsi.

“Yang harus dicari apa yang terjadi di bawah permukaan, terutama terkait penyalahgunaan kewenangan. Auditor forensik berperan penting untuk mendalami,” jelasnya.

Namun demikian, Setyo mengingatkan temuan anomali data tidak boleh serta-merta dijadikan dasar menyimpulkan indikasi fraud. Menurutnya, setiap indikasi harus diuji profesional melalui pemeriksaan, verifikasi, dan pengujian silang agar menghasilkan kesimpulan akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Ketika menemukan data anomali, jangan terburu-buru memvonis fraud. Anomali adalah petunjuk yang harus didalami lebih lanjut melalui proses resmi dan dapat diuji. Dengan cara itu, hasil pemeriksaan akan berkualitas lebih baik,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan berbagai teknologi analitik yang semakin banyak digunakan dalam audit dan investigasi. Menurutnya, teknologi dapat membantu auditor menemukan pola, anomali, maupun hubungan antardata yang sulit teridentifikasi secara.

“Namun, teknologi hanya alat bantu. Sementara, integritas dan profesionalisme manusia tetap menjadi penentu utama,” tegasnya.

Selain membahas audit forensik, Setyo menyoroti strategi pemberantasan korupsi KPK melalui pendekatan penindakan, pencegahan, pendidikan, serta koordinasi dan supervisi. Menurutnya, penindakan yang dilakukan KPK tidak sekadar memberikan efek jera, melainkan menjadi bagian penting upaya pencegahan agar penyimpangan serupa tidak terulang di masa depan.

Sementara itu, Ketua Umum AAFI Periode 2026-2029, Endar Priantoro, menilai transformasi digital telah bermanfaat besar bagi efisiensi dan transparansi, namun turut memunculkan berbagai risiko baru seperti digital fraud, manipulasi data, kejahatan siber, hingga pencucian uang berbasis teknologi. Menurutnya, perkembangan modus kecurangan semakin kompleks dan sulit dibuktikan karena kerap tersembunyi di balik sistem maupun kebijakan yang tampak normal.

“Fraud akan terus berkembang mengikuti kemajuan teknologi, sehingga menjadi tantangan bagi auditor forensik untuk mengungkap dan membuktikannya secara profesional,” ujarnya.

Senada, Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI sekaligus Ketua Dewan Pembina AAFI, Isma Yatun, mengajak auditor forensik terus meningkatkan kompetensi dan memperkuat kolaborasi. Ia menegaskan, teknologi hanya alat bantu yang tidak dapat menggantikan nilai-nilai dasar profesi audit.

“Independensi, integritas, objektivitas, skeptisisme, profesional, dan keberanian menyampaikan kebenaran tetap menjadi fondasi utama kualitas audit dan investigasi,” kata Isma.

Turut hadir dalam kegiatan, Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Akhmad Wiyagus, sebagai keynote speech “Penguatan Kapabilitas Auditor Internal untuk Meningkatkan Tata Kelola dan Pembangunan Berkelanjutan.” KPK meyakini kolaborasi lintas sektor yang ditopang kompetensi, pemanfaatan teknologi bertanggung jawab, serta komitmen terhadap integritas, akan menjadi kunci menghadapi berbagai tantangan fraud dan korupsi di era disrupsi digital.***
×
Berita Terbaru Update