Dalam Pertemuan Informal Tingkat Menteri WTO, Menko Airlangga Tekankan Kontribusi pada Pembangunan Inklusif. (Sumber: Kemenko Perekonomian)
Kamerun, Info Publikasi - Sebagai rangkaian acara Pertemuan Tingkat Menteri (PTM) OECD Tahun 2026, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menghadiri Pertemuan Informal Tingkat Menteri Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO). Pertemuan ini diinisiasi oleh Australia dan turut dihadiri Direktur Jenderal WTO Ngozi Okonjo-Iwaela dan negara-negara kunci WTO untuk bertukar pandangan secara terbuka mengenai arah sistem perdagangan multilateral dan isu-isu strategis WTO.
Pertemuan ini mengangkat tema “Unlocking Progress in the WTO through Revitalised Decision-Making”. Tema tersebut diangkat secara khusus untuk membahas efektivitas proses pengambilan keputusan WTO dan kemampuan organisasi menghasilkan keputusan yang lebih cepat dan relevan terhadap tantangan perdagangan global, serta kebutuhan akan modernisasi pengaturan perdagangan global. Hal ini sebagai tindak lanjut dari Konferensi Tingkat Menteri ke-14 WTO di Yaoundé Kamerun, pada 26-30 Maret 2026 lalu, yang dinilai memberikan hasil terbatas.
Terkait proses reformasi WTO, Indonesia melihat bahwa WTO memerlukan peningkatan efektivitas agar tetap relevan menghadapi tantangan perdagangan global. Indonesia sebagai salah satu negara yang turut mendorong reformasi yang memperkuat efektivitas WTO tanpa mengurangi prinsip inklusivitas dan pembangunan. Hal ini untuk menjembatani kepentingan negara maju dan negara berkembang.
“Reformasi WTO harus memperkuat efektivitas dan legitimasi. WTO akan tetap relevan, bukan hanya jika dapat mengambil keputusan secara lebih efisien, tetapi juga jika keputusan-keputusan tersebut mampu menjawab kebutuhan dan prioritas semua negara anggota WTO, serta berkontribusi pada pembangunan untuk semua,” ungkap Menko Airlangga dalam intervensinya.
Selain Indonesia, pertemuan ini dihadiri oleh sekitar 20 negara anggota WTO yang merepresentasikan kelompok negara-negara maju maupun negara berkembang, antara lain Amerika Serikat, Uni Eropa, Inggris, Jepang, Republik Rakyat Tiongkok, Korea Selatan, Brasil, Afrika Selatan, Singapura, Thailand, Selandia Baru, Swiss, dan Norwegia.
Dalam pertemuan ini, Menko Airlangga didampingi Duta Besar Indonesia di Prancis Mohamad Oemar, Sesmenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso, dan Deputi Bidang Kerja Sama Ekonomi Internasional dan Investasi Edi Prio Pambudi, dan Tim Ahli Menko Perekonomian.***
