Menperin Sarmuji: Pendidikan Vokasi Harus Jadi Solusi Pengangguran dan Siapkan SDM Industri Unggul. (Sumber: Kemenperin)
Bogor, Info Publikasi - Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menegaskan bahwa pendidikan vokasi harus mampu menjadi solusi terhadap persoalan pengangguran sekaligus menyiapkan sumber daya manusia (SDM) industri yang kompeten, produktif, dan berdaya saing. Penguatan keterkaitan antara lembaga pendidikan dan dunia industri menjadi kunci agar lulusan memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja, terutama di tengah percepatan transformasi teknologi dan perubahan karakter industri.
“Saat ini ada paradoks yang cukup tinggi. SMK dibentuk untuk menyiapkan anak-anak yang siap bekerja, tetapi data menunjukkan bahwa pengangguran yang tinggi salah satunya justru berasal dari lulusan SMK. Namun, paradoks itu tidak terjadi di SMK-SMAK Bogor dan Politeknik AKA Bogor. Ini luar biasa dan patut kita apresiasi,” kata Menperin saat melakukan kunjungan kerja ke SMK-SMAK Bogor dan Politeknik AKA Bogor, Jawa Barat, Kamis (22/10).
Sarmuji mengaku terkesan dengan kualitas pembelajaran, berbagai inovasi, serta capaian kedua institusi pendidikan vokasi di bawah naungan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tersebut. Menurutnya, keberhasilan lembaga pendidikan dalam menyiapkan lulusan yang terserap dunia kerja tidak terlepas dari kuatnya kerja sama dengan sektor industri.
“Saya sungguh senang bisa mengunjungi SMK-SMAK Bogor. Performanya luar biasa. Tentu bukan hal yang mudah mempertahankan capaian seperti ini. Pasti ada keunggulan yang dimiliki, salah satunya link and match dengan dunia industri yang kuat. Ini terbukti dari banyaknya kerja sama yang telah dibangun dengan perusahaan,” ujarnya.
Menperin menilai keberhasilan tersebut perlu menjadi contoh bagi lembaga pendidikan vokasi lainnya dalam mengatasi kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan tenaga kerja industri.
Terlebih, Indonesia saat ini tengah menghadapi momentum bonus demografi yang harus dimanfaatkan secara optimal melalui peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja.
“Bonus demografi seharusnya benar-benar menjadi bonus, menjadi kelebihan dan keuntungan bagi Indonesia. Tetapi kalau tidak diimbangi dengan kemampuan SDM dan kesempatan kerja yang memadai, bonus demografi justru bisa menjadi beban bagi Indonesia ke depan,” tegasnya.
Menurut Sarmuji, tingginya jumlah penduduk usia produktif harus diiringi dengan kemampuan lembaga pendidikan menghasilkan tenaga kerja yang siap memasuki dunia industri. Apabila jumlah tenaga kerja produktif terus meningkat tetapi tidak terserap dalam lapangan pekerjaan, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan persoalan sosial dan ekonomi.
Oleh karena itu, Kemenperin melalui berbagai unit pendidikan vokasi memiliki tanggung jawab untuk ikut menjawab tantangan ketenagakerjaan nasional, khususnya dalam memperkecil kesenjangan antara kebutuhan industri dan kompetensi lulusan.
“Kementerian Perindustrian memiliki sekolah-sekolah dan politeknik yang tentu bisa berkontribusi besar untuk menyelesaikan persoalan tersebut, baik masalah pengangguran maupun kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan dunia industri,” jelasnya.
Dalam agenda transformasi nasional menuju Indonesia Emas 2045, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada tahun 2029. Untuk mendukung sasaran tersebut, industri pengolahan ditargetkan tumbuh 8,14 persen, dengan produktivitas tenaga kerja industri manufaktur meningkat dari Rp124,35 juta per orang pada 2025 menjadi Rp147,7 juta per orang pada 2029.
Menperin menekankan bahwa pencapaian target tersebut tidak cukup hanya mengandalkan penambahan investasi, pembangunan fasilitas produksi, maupun peningkatan jumlah tenaga kerja. Dalam jangka panjang, pertumbuhan industri sangat ditentukan oleh kualitas SDM, produktivitas, serta kemampuan dalam menguasai dan mengembangkan teknologi.
Pendidikan Vokasi Harus Adaptif terhadap Perubahan Industri
Lebih lanjut, Sarmuji mengingatkan bahwa dunia industri tengah mengalami perubahan besar seiring perkembangan teknologi informasi, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), digitalisasi, otomasi, serta tuntutan keberlanjutan.
Perubahan tersebut telah memengaruhi hampir seluruh proses bisnis industri, mulai dari perancangan produk, pengelolaan rantai pasok, pengendalian mutu, hingga pengambilan keputusan.
“Saya berharap lembaga pendidikan di bawah Kementerian Perindustrian benar-benar memperhatikan pola perubahan ini. Kalau perubahan tersebut tidak bisa kita tangkap, saya khawatir kita tidak mampu beradaptasi ke depan,” ungkapnya.
Menurut Menperin, lembaga pendidikan vokasi seharusnya tidak hanya mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga dapat menjadi pelopor dalam menghadirkan inovasi yang dibutuhkan dunia industri.
“Idealnya, dengan membaca pola-pola perubahan, kita bukan hanya bisa beradaptasi, tetapi bahkan bisa menjadi trendsetter. Kita bisa memimpin perubahan apabila mampu mempelajari dan memahami arah perkembangan industri, terutama yang dipengaruhi oleh kemajuan teknologi informasi,” tuturnya.
Meski demikian, Sarmuji menegaskan bahwa kemajuan teknologi tidak akan sepenuhnya menggantikan peran manusia. Kreativitas, pengalaman, kemampuan berpikir kritis, dan kecakapan dalam menyelesaikan persoalan tetap menjadi keunggulan utama SDM.
“Teknologi memang akan semakin mudah diakses, tetapi ada peran yang tidak akan pernah tergantikan, yaitu peran sumber daya manusia. Sehebat apa pun kemajuan teknologi dan informasi, kreativitas manusia, pengalaman, serta rekam jejak tidak akan pernah bisa sepenuhnya digantikan oleh teknologi,” katanya.
Karena itu, pendidikan vokasi harus mampu menyeimbangkan penguasaan teknologi dengan pengembangan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kepemimpinan, serta keterampilan dalam mengambil keputusan.
“Kita harus adaptif terhadap kemajuan teknologi dan benar-benar menguasainya. Namun, di sisi lain, kita juga harus terus mengembangkan kemampuan manusia Indonesia untuk berpikir kritis, kreatif, inovatif, dan mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan,” imbuhnya.
Dorong Inovasi dan Perlindungan Hak Paten
Dalam kunjungannya, Menperin juga memberikan perhatian terhadap berbagai inovasi yang dihasilkan peserta didik. Ia menilai sejumlah karya yang dikembangkan memiliki potensi untuk ditingkatkan menjadi produk bernilai tambah dan dimanfaatkan oleh industri.
Sarmuji bahkan mendorong agar inovasi yang memiliki kebaruan segera mendapatkan perlindungan hak kekayaan intelektual, termasuk melalui pengajuan paten apabila memenuhi persyaratan.
“Tadi saya melihat berbagai inovasi yang luar biasa. Ada yang saya tanyakan apakah sudah pernah dihasilkan oleh pihak lain, ternyata belum. Kalau memang merupakan inovasi baru, saya minta agar dibantu pengurusan hak patennya,” ujarnya.
Menurut Menperin, perlindungan kekayaan intelektual menjadi penting agar hasil kreativitas peserta didik tidak berhenti sebagai karya pembelajaran, tetapi dapat dikembangkan menjadi inovasi yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat bagi sektor industri.
Selain itu, Menperin menyoroti pentingnya mempertahankan keunggulan pendidikan vokasi sektoral yang diselenggarakan kementerian teknis. Ia menilai lembaga pendidikan vokasi di bawah kementerian sektoral memiliki karakteristik dan kompetensi khusus yang dibangun berdasarkan kebutuhan industri masing-masing.
Pandangan tersebut disampaikan Sarmuji dalam kaitannya dengan pembahasan kebijakan pendidikan nasional, termasuk wacana penataan lembaga pendidikan yang dikelola kementerian sektoral.
“Dulu ada pandangan agar lembaga pendidikan sektoral yang dikelola kementerian-kementerian berada dalam satu atap kementerian pendidikan. Namun, sekarang saya melihat bahwa lembaga pendidikan sektoral memiliki spesialisasi yang sangat khusus. Kita khawatir apabila semuanya disatukan, justru akan kehilangan kekuatan spesialisasi dan kompetensinya,” jelasnya.
Sarmuji menyatakan akan mengomunikasikan pandangan tersebut dengan pihak terkait, termasuk Komisi X DPR RI, agar keunggulan dan karakteristik pendidikan vokasi sektoral tetap menjadi perhatian dalam perumusan kebijakan.
BPSDMI Perkuat Kualitas Pendidikan Vokasi Industri
Sementara itu, Plt. Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin, Adie Rochmanto Pandiangan, menjelaskan bahwa pihaknya terus memperkuat kualitas pendidikan vokasi melalui penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan industri, peningkatan kompetensi tenaga pendidik, pengembangan fasilitas pembelajaran, serta perluasan kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri.
Menurut Adie, SMK-SMAK Bogor dan Politeknik AKA Bogor merupakan dua institusi pendidikan vokasi Kemenperin yang memiliki peran penting dalam menyiapkan tenaga kerja terampil, khususnya di bidang kimia dan industri terkait.
“Melalui penguatan pendidikan vokasi berbasis kompetensi dan kebutuhan industri, kami terus mendorong agar lulusan tidak hanya memiliki kemampuan akademis dan keterampilan teknis, tetapi juga kesiapan kerja, kemampuan beradaptasi, serta daya saing yang tinggi,” ujar Adie.
Adie mengungkapkan, SMK-SMAK Bogor merupakan salah satu unit pendidikan vokasi Kemenperin yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan bidang kimia analisis selama empat tahun. Sekolah tersebut menerapkan kurikulum terintegrasi yang memadukan kurikulum nasional, Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), kebutuhan industri, serta standar internasional.
Dalam mendukung pembelajaran berbasis praktik, SMK-SMAK Bogor telah mengembangkan berbagai program unggulan, antara lain teaching factory, pembelajaran berbasis proyek (project work), sertifikasi kompetensi, praktik kerja industri, hingga fasilitasi penempatan kerja lulusan melalui Bursa Kerja Khusus (BKK).
“SMK-SMAK Bogor terus mengembangkan sistem pembelajaran yang mendekatkan peserta didik dengan kebutuhan nyata dunia industri. Melalui praktik laboratorium, proyek inovasi, dan kerja sama industri, para siswa dibekali kompetensi agar mampu berkontribusi secara langsung ketika memasuki dunia kerja,” jelas Adie.
Selain itu, SMK-SMAK Bogor telah mencatatkan berbagai prestasi, di antaranya akreditasi A, penerapan sistem manajemen mutu ISO 9001:2015, serta memperoleh nilai A dalam penilaian penerapan pendidikan vokasi sistem ganda dari Perkumpulan Ekonomi Indonesia-Jerman (EKONID). Sekolah tersebut juga meraih peringkat pertama SMK terbaik di Jawa Barat berdasarkan capaian TKA dan UTBK tahun 2025.
Lebih lanjut, Adie menyampaikan bahwa Politeknik AKA Bogor juga terus menunjukkan perannya sebagai perguruan tinggi vokasi Kemenperin yang berfokus pada pengembangan kompetensi di bidang kimia dan terapannya.
Politeknik AKA Bogor memiliki empat program studi, yakni Diploma III Analisis Kimia, Diploma III Penjaminan Mutu Industri Pangan, Diploma III Pengolahan Limbah Industri, serta Diploma IV Nanoteknologi Pangan.
Sebagai pelopor pendidikan vokasi Diploma III Analisis Kimia di Indonesia, Politeknik AKA Bogor juga menjadi perguruan tinggi pertama dan satu-satunya di Indonesia yang memiliki program studi Diploma IV Nanoteknologi Pangan, sebagaimana tercantum dalam profil institusinya.
“Politeknik AKA Bogor memiliki keunggulan dalam pendidikan kimia terapan yang sangat dibutuhkan sektor industri. Kami terus mendorong penguatan pembelajaran berbasis teknologi, penelitian terapan, dan kerja sama industri agar lulusannya mampu menjawab kebutuhan tenaga profesional yang semakin kompleks,” tutur Adie.
Dalam menunjang kegiatan pembelajaran, Politeknik AKA Bogor telah dilengkapi berbagai fasilitas, seperti laboratorium kimia analitik, laboratorium instrumentasi, laboratorium pangan dan mikrobiologi, laboratorium nanomaterial dan nanoteknologi, serta fasilitas pengolahan limbah.
Politeknik tersebut juga menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan dan institusi internasional dalam pengembangan kurikulum, penelitian terapan, peningkatan kompetensi, serta penguatan kapasitas SDM industri.
Adie menambahkan, pengembangan kedua institusi pendidikan tersebut merupakan bagian dari upaya BPSDMI dalam membangun ekosistem pendidikan vokasi yang terintegrasi dengan kebutuhan sektor manufaktur nasional.
“Kami ingin seluruh unit pendidikan vokasi Kemenperin terus berkembang menjadi pusat pengembangan kompetensi dan inovasi yang mampu menghasilkan SDM industri unggul. Dengan demikian, pendidikan vokasi dapat memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan produktivitas, daya saing, dan pertumbuhan industri nasional,” pungkasnya.
Perkuat Layanan Standardisasi Industri
Selain penguatan pendidikan vokasi, Menperin juga menyoroti pentingnya peran lembaga layanan teknis dalam meningkatkan produktivitas dan daya saing industri nasional.
Salah satunya adalah Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Agro (BBSPJIA) di Bogor, yang merupakan unit pelaksana teknis di bawah Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kemenperin.
Lembaga yang telah berusia 117 tahun tersebut memiliki peran strategis dalam mendukung peningkatan mutu, produktivitas, dan daya saing industri agro, baik di tingkat nasional maupun internasional.
BBSPJIA menyediakan berbagai layanan teknis industri, meliputi pengujian, kalibrasi, sertifikasi, inspeksi teknis, konsultansi, bimbingan teknis, verifikasi tingkat komponen dalam negeri (TKDN), verifikasi dan validasi gas rumah kaca, pemeriksaan halal, hingga optimalisasi teknologi.
Menurut Menperin, keberadaan lembaga layanan teknis yang profesional dan adaptif menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem industri yang kuat. Dukungan standardisasi dan layanan teknologi diperlukan agar produk industri nasional semakin berkualitas, efisien, dan mampu bersaing di pasar global.
Melalui penerapan pola pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum (BLU) secara mandiri, BBSPJIA juga diharapkan dapat terus meningkatkan kualitas, fleksibilitas, dan kemandirian pelayanan kepada pelaku industri.
Menperin menekankan bahwa sinergi antara lembaga pendidikan vokasi, lembaga layanan teknis, dan dunia industri harus terus diperkuat untuk menciptakan ekosistem manufaktur yang produktif dan berkelanjutan.
Pada kesempatan tersebut, Sarmuji juga berpesan kepada para guru, dosen, dan tenaga kependidikan agar senantiasa menjaga dedikasi serta profesionalisme dalam menjalankan tugas.
“Para pendidik tidak sekadar menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi juga turut membentuk karakter, etos kerja, kedisiplinan, integritas, dan masa depan generasi penerus industri Indonesia,” katanya.
Kepada para siswa dan mahasiswa, Menperin mengingatkan pentingnya memanfaatkan kesempatan belajar untuk meningkatkan kompetensi, mengasah keterampilan, serta membangun karakter yang kuat sebagai bekal memasuki dunia kerja.
“Kuasai ilmu pengetahuan, asah keterampilan, tingkatkan kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama, serta bangun karakter yang kuat. Saya percaya, dengan semangat kolaborasi, profesionalisme, inovasi, dan perbaikan berkelanjutan, lembaga pendidikan vokasi Kemenperin akan terus berkembang dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan industri Indonesia,” pungkasnya.***
