Notification

×

Iklan

Iklan

Kemenperin Perluas Ruang Kreativitas Generasi Muda di Industri Batik

Sabtu, 03 Oktober 2026 | Oktober 03, 2026 WIB Last Updated 2026-10-03T15:52:03Z
Kemenperin Perluas Ruang Kreativitas Generasi Muda di Industri Batik. (Sumber: Kemenperin)

Surabaya, Info Publikasi - Kementerian Perindustrian terus memperkuat industri batik nasional melalui pengembangan kapasitas pelaku industri, peningkatan kualitas dan keberlanjutan produk, perluasan akses pasar, serta pemanfaatan teknologi. Dalam upaya tersebut, keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan industri batik sekaligus membuka ruang inovasi sesuai perkembangan zaman.

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menyampaikan, industri batik memiliki keterkaitan erat dengan identitas budaya Indonesia sekaligus potensi ekonomi yang besar. Karena itu, penguatan industri batik tidak hanya berkaitan dengan upaya melestarikan warisan budaya, tetapi juga memastikan para perajin dan pelaku usaha mampu bertahan serta berkembang mengikuti kebutuhan pasar.

“Pelestarian juga perlu berjalan bersama upaya untuk membuat para perajin batik mampu bertahan dan berkembang,” ujar Wamen Faisol pada Community Engagement bertajuk “Make Your Move: Your Journey to the Future of Industry” dalam rangkaian Industrial Festival x Hari Batik Nasional 2026 di Surabaya, Kamis (1/10).

Faisol menjelaskan, kinerja industri pengolahan nonmigas (IPNM) menunjukkan perkembangan yang positif. Pada Triwulan – II 2026, pertumbuhan IPNM tercatat sebesar 5,32 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen. Pada periode yang sama, IPNM memberikan kontribusi pertumbuhan terbesar sebesar 0,97 persen.

Menurut Wamenperin, gambaran tersebut menunjukkan besarnya peran sektor industri dalam menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, serta menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi. Hal tersebut juga tercermin dalam industri batik, yang mengolah bahan dan keterampilan menjadi produk dengan nilai tambah sekaligus membawa identitas budaya Indonesia.

Pada sektor ekonomi, potensi industri batik juga terlihat dari perkembangan ekspornya. Berdasarkan data Kemenperin, ekspor produk batik pada tahun 2025 meningkat 32,50 persen menjadi USD20,14 juta dibandingkan tahun 2024 yang sebesar USD15,20 juta. Pada Triwulan – II tahun 2026, nilai ekspor produk batik tercatat sebesar USD4,39 juta.

“Ketika kita berbicara tentang industri batik yang lebih kuat, kita sedang membicarakan seluruh perjalanan produk, dari ide dan keterampilan perajin, proses produksi, mutu, cerita, hingga pengalaman orang yang membeli dan memakainya,” jelasnya. 

Pelestarian industri batik tentu membutuhkan regenerasi agar terjaga keberlangsungannya. Dalam hal ini, generasi muda memiliki ruang luas untuk terlibat dalam pengembangan industri batik yang tidak terbatas pada aktivitas membatik, tetapi juga dapat dilakukan melalui kreativitas, teknologi, desain, pemasaran digital, pengelolaan lingkungan, hingga komunikasi budaya.

Dalam paparannya, Wamenperin memberikan contoh kolaborasi antara perajin dan mahasiswa. Perajin yang memiliki produk berkualitas dapat bekerja sama dengan generasi muda yang memiliki kemampuan fotografi, penulisan, pembuatan katalog digital, maupun pemasaran melalui e-commerce. Pertemuan antara keterampilan yang dimiliki perajin dan kemampuan generasi muda tersebut dapat menciptakan bentuk kontribusi baru dalam pengembangan industri batik.

“Ketika keduanya ini bertemu maka menjadikan sebuah kolaborasi yang kuat. Dan hal tersebut dapat menjadi bentuk kontribusi konkret dari generasi muda atau Gen Z,” ungkapnya. 

Selain kolaborasi di bidang pemasaran, generasi muda juga dapat mengambil peran dalam pengembangan teknologi produksi. Apalagi di era serba digital, generasi muda dapat berkontribusi melalui pembuatan konten, analisis data, serta pembangunan komunitas. Kemampuan tersebut dapat membantu pelaku usaha dalam menyajikan informasi produk secara lebih menarik dan membangun komunikasi yang lebih dekat dengan pasar. 

Ruang inovasi juga terbuka dalam pengembangan desain produk yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Batik dapat dikembangkan untuk berbagai aktivitas, mulai dari kuliah, bekerja, menghadiri acara, hingga penggunaan sehari-hari, dengan tetap memperhatikan asal-usul dan makna motifnya.

Aspek keberlanjutan juga menjadi bagian dari pengembangan industri batik. Generasi muda yang memiliki perhatian terhadap lingkungan dapat terlibat dalam mencari cara penggunaan air dan bahan yang lebih bertanggung jawab sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan pelaku usaha, termasuk dalam upaya meminimalisir pencemaran limbah kimia dari proses produksi. 

Memperingati Hari Batik Nasional 2026, Kemenperin bersama Yayasan Batik Indonesia (YBI) memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengenal lebih dekat industri batik sekaligus melihat berbagai peluang kontribusi yang dapat dikembangkan sesuai minat dan kompetensi masing-masing.

Dalam rangkaian Puncak Pameran HBN 2026, Kemenperin menyelenggarakan sejumlah kegiatan pada 30 September – 4 Oktober 2026 di Atrium Plaza Tunjungan 3, Kota Surabaya, antara lain kuliah umum, talkshow, workshop, serta penyerahan Batikmark kepada IKM. Pameran industri batik kali ini melibatkan lebih dari 40 peserta pameran. Sebelumnya, Kemenperin juga telah melaksanakan sejumlah program pembinaan IKM batik, seperti fasilitasi Batikmark dan pendampingan diversifikasi produk batik.***
×
Berita Terbaru Update