Notification

×

Iklan

Iklan

Kemenperin Dorong Wastra Indonesia Naik Kelas melalui Kolaborasi Industri dan Pariwisata

Rabu, 14 Oktober 2026 | Oktober 14, 2026 WIB Last Updated 2026-10-14T18:05:01Z
Kemenperin Dorong Wastra Indonesia Naik Kelas melalui Kolaborasi Industri dan Pariwisata. (Sumber: Kemenperin)

Jakarta, Info Publikasi - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat pengembangan industri wastra nasional agar semakin inovatif, berdaya saing, dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk wisatawan mancanegara. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui kolaborasi Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) dengan Discovery Kartika Plaza Hotel dalam penyelenggaraan Journey of Wastra di Badung, Bali, pada 2 Oktober 2026, sebagai bagian dari peringatan Hari Batik Nasional 2026.

Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menegaskan, pengembangan wastra merupakan bagian penting dari upaya memperkuat industri tekstil dan pakaian jadi nasional, sekaligus menjaga kekayaan budaya Indonesia sebagai sumber keunggulan industri fesyen.

“Selain berbagai upaya dalam melestarikan industri wastra nasional, kita harus memastikan bahwa wastra tetap menjadi identitas dan ciri khas dalam pengembangan industri fesyen nasional,” kata Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (14/10).

Berdasarkan data Kemenperin, industri tekstil dan pakaian jadi tumbuh sebesar 6,36 persen pada triwulan II tahun 2026 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, nilai ekspor tekstil dan pakaian jadi sepanjang Januari–Juli 2026 mencapai USD7,18 miliar. Indonesia juga memiliki 465 sentra tenun dan 200 sentra batik yang menjadi bagian penting dari ekosistem industri wastra nasional.

Menurut Menperin, capaian tersebut menunjukkan besarnya peluang pengembangan industri wastra, terutama melalui peningkatan inovasi, diversifikasi produk, dan penguatan daya saing.

“Pertumbuhan industri tekstil dan pakaian jadi menunjukkan bahwa sektor ini memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan. Dengan dukungan ekosistem industri wastra yang kita miliki, inovasi dan pengembangan produk perlu terus ditingkatkan agar semakin relevan dengan kebutuhan pasar serta memiliki nilai tambah yang berdaya saing,” ujarnya.

Menperin menjelaskan, kekayaan teknik, motif, material, dan nilai budaya yang terkandung dalam wastra Indonesia merupakan modal penting untuk menghasilkan produk fesyen yang memiliki karakter dan keunggulan tersendiri. Namun, industri ini masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain regenerasi perajin, persaingan dengan produk tekstil bermotif batik, serta kompetisi global dengan negara produsen yang memiliki struktur biaya lebih efisien.

Karena itu, penguatan industri wastra perlu diarahkan tidak hanya pada pelestarian budaya, tetapi juga pada pengembangan desain, diversifikasi produk, penguatan merek, dan strategi pemasaran yang mampu mengikuti perubahan kebutuhan konsumen.

“Kondisi tersebut mendorong perlunya inovasi produk wastra, mulai dari desain dan diversifikasi produk hingga penguatan merek, nilai produk, dan pemasaran. Dengan demikian, kekayaan budaya wastra dapat diterjemahkan menjadi produk bernilai tambah yang mampu menjawab kebutuhan pasar,” tambahnya.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita menyampaikan, Journey of Wastra menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat ekosistem industri fesyen dan kriya melalui kolaborasi lintas sektor.

Kegiatan tersebut menghadirkan ruang pertemuan bagi pelaku industri wastra, desainer, akademisi, dan masyarakat untuk berbagi pengetahuan, mengembangkan kreativitas, memperluas jejaring usaha, serta membuka peluang akses pasar.

“Selain mempromosikan potensi dan kekayaan wastra nasional, kami berharap kegiatan ini dapat mendorong lahirnya berbagai kolaborasi antara pelaku industri wastra dan sektor terkait,” ungkap Reni.

Ia menambahkan, kekuatan utama wastra Indonesia terletak pada identitas dan nilai budaya yang melekat pada setiap produknya. Tantangan berikutnya adalah mengolah keunggulan tersebut menjadi produk yang sesuai dengan perkembangan tren dan kebutuhan konsumen.

“Tantangannya adalah bagaimana kekuatan identitas dan nilai budaya tersebut dapat diterjemahkan melalui desain menjadi produk yang relevan dengan kebutuhan konsumen,” jelasnya.

Keterlibatan sektor swasta

Kepala BPIFK Dickie Sulistya Apriliyanto menekankan pentingnya keterlibatan sektor swasta dalam memperluas promosi dan apresiasi terhadap produk wastra Indonesia. Menurutnya, kolaborasi dengan industri perhotelan menjadi salah satu pendekatan untuk memperkenalkan produk fesyen dan kriya berbasis budaya kepada pasar yang lebih luas.

“Keterlibatan Discovery Kartika Plaza Hotel dalam Journey of Wastra menjadi salah satu bentuk dukungan sektor perhotelan dalam menghadirkan wastra sebagai bagian dari pengalaman kreatif dan budaya yang dapat dinikmati masyarakat maupun wisatawan,” ujar Dickie.

Ia berharap sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, desainer, akademisi, perajin, dan sektor swasta terus diperkuat guna membangun ekosistem industri wastra yang berkelanjutan.

“Sinergi lintas sektor diperlukan tidak hanya untuk menjaga keberlanjutan nilai budaya, tetapi juga membuka ruang bagi inovasi, pengembangan produk, dan perluasan akses pasar bagi pelaku industri fesyen dan kriya,” tuturnya.

Kegiatan Journey of Wastra menghadirkan sejumlah agenda, antara lain Design Talk bertema “Wastra for Market Readiness: Adaptasi Desain Wastra terhadap Pasar dan Konsumen”, yang mempertemukan perspektif pemerintah, akademisi, dan pelaku industri kreatif.

Diskusi tersebut menghadirkan Kepala BPIFK Dickie Sulistya Apriliyanto, Creative Director Setia Cap Cili Idon Pande, serta Ketua IMODEA sekaligus Koordinator Program Studi Desain Mode ISI Bali, Dr. Tjok Istri Ratna C.S., S.Sn.

Selain diskusi, kegiatan ini menampilkan peragaan busana karya Tjok Abi, Duabe by Padmi, serta sejumlah industri kecil dan menengah (IKM) binaan BPIFK, yakni Kekean, Kominela, Geokraft Bag, Suwari Loka, Sekar Bali Jewelry, dan TSDC (Tanda Sayang dan Cinta) Bag.

Peragaan busana tersebut memperlihatkan bagaimana kekayaan wastra Indonesia dapat dikembangkan menjadi produk fesyen dan kriya kontemporer yang memiliki nilai estetika sekaligus potensi komersial.

Sementara itu, kegiatan pop-up market menghadirkan produk IKM binaan BPIFK, antara lain Theacastor, Tinizhop, Suwari Loka, Enigma, Sekar Bali Jewelry, AUM Healthy Apparel, dan Lotta Terra. Melalui kegiatan ini, para pelaku usaha memperoleh kesempatan untuk memperkenalkan produk, berinteraksi langsung dengan konsumen, serta memperluas jaringan pemasaran.

Rangkaian acara juga dilengkapi dengan demonstrasi mencanting yang memberikan pengalaman langsung kepada masyarakat dan wisatawan untuk mengenal teknik pembuatan batik serta proses kreatif di balik produk wastra Indonesia.

General Manager Discovery Kartika Plaza Hotel, Luis Daniel Garcia, menyampaikan bahwa Journey of Wastra merupakan bentuk apresiasi terhadap kekayaan warisan budaya dan kreativitas Indonesia.

“Kami bangga dapat menghadirkan sebuah wadah yang mempertemukan desainer, perajin, dan pelaku industri untuk bersama-sama menunjukkan bagaimana wastra dapat terus berkembang dan semakin dekat dengan masyarakat masa kini,” ujarnya.

Melalui kolaborasi tersebut, Kemenperin berharap pengembangan wastra Indonesia semakin terintegrasi dengan sektor pariwisata, industri kreatif, dan perdagangan sehingga mampu memperluas peluang usaha, meningkatkan nilai tambah produk, serta memperkuat posisi wastra nasional di pasar domestik maupun global.***
×
Berita Terbaru Update