Notification

×

Iklan

Iklan

Dukung Swasembada Energi Lewat Implementasi B50, Menko Airlangga Dorong Penguatan Riset dan Inovasi Sawit Berkelanjutan

Rabu, 22 Juli 2026 | Juli 22, 2026 WIB Last Updated 2026-07-22T20:44:56Z
Dukung Swasembada Energi Lewat Implementasi B50, Menko Airlangga Dorong Penguatan Riset dan Inovasi Sawit Berkelanjutan. (Sumber: Kemenko Perekonomian)

Jakarta, Info Publikasi - Industri kelapa sawit memiliki posisi strategis dalam perekonomian Nasional. Di tahun 2025, industri ini telah berkontribusi sekitar 3,5% terhadap PDB Nasional. Berdasarkan data Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), nilai ekspor produk kelapa sawit di tahun 2025 sebesar USD30,87 miliar dengan volume ekspor 38,84 juta ton atau meningkat 11,05% dibandingkan tahun sebelumnya. Sehubungan dengan hal tersebut, Pemerintah terus mendorong penguatan ekosistem riset dan inovasi sebagai fondasi pengembangan industri kelapa sawit yang berkelanjutan, bernilai tambah, dan berdaya saing.

“Kami memberikan apresiasi kepada Badan Pengelola Dana Perkebunan atas konsistensinya menyelenggarakan dan menghadirkan Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) sebagai sarana dan pertemuan antara riset, kebijakan, industri, dan investasi. Secara khusus, saya juga memberikan selamat kepada para pemenang mahasiswa tadi yang membuat riset mengenai polyurethane foam. Kemudian membuat anoda dari TBS,” tutur Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat memberikan closing remarks dalam acara Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026 di Jakarta, Selasa (21/07).

Selain itu, dalam rangka mendukung Program Swasembada Energi Nasional dan Hilirisasi Kelapa Sawit, Pemerintah telah mengimplementasikan Program Biodiesel 50 (B50) per tanggal 1 Juli 2026 dan telah di-launching oleh Presiden Prabowo Subianto pada tanggal 9 Juli 2026 lalu. Implementasi Mandatori Biodiesel B50 merupakan contoh konkret dimana riset, kebijakan, investasi, dan kapasitas industri dapat disatukan untuk mencapai tujuan strategis Nasional.

Keberhasilan B50 juga harus menjadi landasan untuk mengembangkan generasi hilirisasi berikutnya, antara lain Green Diesel, Bio Avtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) melalui pemanfaatan Used Cooking Oil (UCO), dan Bensin Sawit. Produk-produk tersebut memiliki nilai tambah lebih tinggi dan dapat memperluas basis investasi nasional di luar produk sawit konvensional. Selain itu, besarnya kontribusi kelapa sawit tersebut perlu terus diperkuat melalui peningkatan produktivitas, penguasaan teknologi, pengembangan produk hilir bernilai tambah, serta penerapan tata kelola yang berkelanjutan. Oleh karena itu, riset dan inovasi harus ditempatkan sebagai bagian penting dalam transformasi industri kelapa sawit nasional.

Sebagai informasi, Forum PERISAI 2026 memberikan ruang bagi generasi muda melalui Lomba Riset Sawit Tingkat Mahasiswa yang melibatkan peserta dari 40 perguruan tinggi. Setelah melalui rangkaian seleksi selama 2 hari, telah terpilih 10 mahasiswa yang selanjutnya ditetapkan menjadi 3 peserta terbaik untuk menerima penghargaan pada kesempatan ini.

“Kegiatan ini tentu menjadi sangat penting karena riset kebijakan dan juga investasi ini menjadi hal yang sangat penting apalagi para researcher-nya adalah dari perguruan tinggi di Indonesia. Karena Indonesia adalah produsen terbesar dari sawit maka wajar kalau para penelitinya berasal dari universitas-universitas terbaik di Indonesia,” ujar Menko Airlangga.

Menko Airlangga juga menekankan bahwa hasil-hasil penelitian tersebut perlu didorong agar dapat diadopsi dan dikomersialkan oleh industri, dengan tetap memberikan perlindungan hak kekayaan intelektual kepada para peneliti. Selain pengembangan industri sawit, Menko Airlangga juga mendorong percepatan program peremajaan (replanting) tanaman kakao dan kelapa dimana kedua komoditas tersebut sebagian besar dikelola oleh perkebunan rakyat sehingga perlu mendapat perhatian untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat.

“Apresiasi kepada BPDP, peneliti, perguruan tinggi, lembaga riset dan para pelaku usaha, serta seluruh pihak yang terkontribusi terhadap PERISAI 2026 dan juga untuk pembangunan industri kelapa sawit nasional. Saya ingin agar kegiatan ini terus diperkuat, ditindaklanjuti sehingga bermanfaat bagi perekonomian, bisa meningkatkan kesejahteraan petani, dan meningkatkan juga nilai tambah daripada pekebun,” pungkas Menko Airlangga.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut diantaranya yaitu Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Eddy Abdurrachman, Wakil Sekretaris Jenderal Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) Musdhalifah Machmud, Plt. Deputi Bidang Koordinasi Industri, Ketenagakerjaan, dan Pariwisata Dida Gardera.***
×
Berita Terbaru Update