Wamen Fajar Tinjau Pemanfaatan IFP di Kabupaten Blora. (Sumber: Kemendikdasmen)
Jawa Tengah, Info Publikasi - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, meninjau program digitalisasi pembelajaran melalui pemanfaatan bantuan Interactive Flat Panel (IFP) di SD Katolik Krida Dharma, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Sabtu (3/1).
Kunjungan ini menjadi bagian dari komitmen Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dalam mendorong pemanfaatan teknologi pembelajaran yang adaptif dan berpusat pada kebutuhan murid.
Bantuan IFP untuk SD Katolik Krida Dharma diserahkan bertepatan dengan peringatan Hari Guru Nasional pada 25 November 2025. Dalam kunjungannya, Wamen Fajar menyaksikan praktik pembelajaran di mana guru memanfaatkan IFP untuk menampilkan bahan ajar digital dan konten edukatif yang mendorong keterlibatan siswa dalam proses belajar.
Wamen Fajar menegaskan bahwa kehadiran teknologi digital dalam pembelajaran tidak menggantikan peran guru. Menurutnya, guru tetap menjadi aktor utama dalam proses pendidikan, sementara IFP berfungsi sebagai media pendukung pembelajaran.
“Tetap guru yang menjadi kunci. IFP ini adalah media pembelajarannya,” ujar Wamen Fajar.
Ia juga mendorong para guru untuk mengoptimalkan pemanfaatan platform Rumah Pendidikan sebagai sumber belajar digital. Rumah Pendidikan merupakan superaplikasi yang mengintegrasikan berbagai layanan pendidikan dalam satu pintu, mencakup konten video pembelajaran interaktif, artikel, laboratorium maya, gim edukasi, hingga latihan soal, yang dapat diakses oleh guru dan murid.
Salah satu guru SD Katolik Krida Dharma, Anik Sulifah, menyampaikan bahwa IFP menjadi media pembelajaran yang efektif karena mampu mengakomodasi beragam kebutuhan belajar siswa.
“Misalnya melalui tayangan video, audio, ataupun gim edukatif lainnya, yang dapat disentuh secara langsung oleh siswa sehingga tercipta keaktifan dalam pembelajaran,” jelas Anik.
Menurutnya, pemanfaatan IFP juga memberikan dampak positif bagi kompetensi guru. Guru dapat mengembangkan ide-ide pembelajaran yang sebelumnya sulit diterapkan serta terdorong untuk terus mengikuti perkembangan teknologi pendidikan. Dari sisi siswa, penggunaan IFP membuat mereka lebih aktif, kreatif, dan bersemangat mengikuti pembelajaran.
“Pada pembelajaran sebelumnya melalui proyektor, mereka belajar melalui membaca, mendengarkan, ataupun melihat. Sedangkan fitur IFP ini dapat dikendalikan dan disentuh layarnya, sehingga anak-anak bisa memiliki keterlibatan secara langsung dalam materi yang diberikan,” terangnya.
Melalui program digitalisasi pembelajaran dan penyediaan IFP di sekolah-sekolah, Kemendikdasmen berupaya untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih adaptif, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik. Pemanfaatan teknologi yang didukung oleh kompetensi guru diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran.***
